Selasa, 10 Februari 2015

LBS K-Drama



Siangku sepi tanpa ocehanmu. Malamku merana seperti perempuan yang menangisi kekasihnya pergi. Dan pagiku lenyap bersama embun karenamu. Kemana saja kamu, wahai kurir cinta?

Senin, 09 Februari 2015

Untukmu



Kepada…
Ah, sudahlah.

Tepat pukul sebelas malam sebelum hari menjadi baru. Aku mamanggil angin lalu menitipkan rindu. Menyampaikan pesan untukmu dalam heningnya malam dan menuliskan bahwa aku ingin sekali bertemu.

Minggu, 08 Februari 2015

Sembilan Puluhan


Kepada teman-teman, 
Sembilan Puluhan.

Tak terasa waktu berlalu dan semakin tua saja kita. Bukan sekolah lagi tujuan setiap pagi. Atau menonton power rangers setiap minggu. Bukan permen pendekar biru lagi yang diemut. Atau sepeda roda tiga yang menjadi tunggangan saat berkeliling komplek.

Sabtu, 07 Februari 2015

Seharusnya Aku


Kepada yang pernah singgah,
menggantikan Ge sebentar.

Seharusnya aku tidak berkata terima kasih. Ketika setiap pagi kau mengirim sebuah ucapan selamat. Mengorbankan sedikit waktu sibukmu untuk menyapaku. Bertanya sedang apa dan membahas kesenangan kita. 

Jumat, 06 Februari 2015

Si Ambisius yang Lebay


Untuk penghuni kamar sebelah, 
Si ambisius yang lebay.

Menjadi pilot, kau bilang begitu. Mungkin sudah puluhan kali cita-citamu itu berubah. Berganti setiap kali kau menonton televisi. Sungguh seperti jarum jam yang terus berputar saja, kau itu.

Aku ingat betul dulu kau pernah bilang ingin menjadi seorang dokter, lalu aktris, lalu teknisi komputer, lalu dokter gigi, lalu pramugari, dan sekarang pilot. Ternyata bukan kepada pasangan saja kau tak setia, pada mimpimu pun juga. Oh iya, kau sudah insaf kan bepacar tujuh sekaligus? Tulisanku tentang ketujuh pacarmu itu sempat bertahan beberapa bulan di-“5 postingan paling sering dibaca”, loh. Hahaha.

Kamis, 05 Februari 2015

Untuk Bernard Batubara



Kepada Bernard Batubara 
My favorite writer

Halo.. Kak Bara. Apa kabar? Sedang apa? Masih senang membaca dan menulis di Starbucks? Bagaimana koleksi buku-bukumu? Buku Murakami tumpukan paling tinggi, bukan? Perkenalkan aku pembaca dari Negeri Matan, Ketapang.

Kak Bara, sebenarnya aku ragu untuk mengirimimu surat ini. Aku malu karena tulisanku ini tidak sebagus cerita-cerita cintamu. Tidak seindah senja di Jembrana ataupun deru biru pada mata Nessa saat bersitatap dengat mata Demas. Tidak semanis sepotong red velvet dan gurih seperti bubur cikini. Juga tidak berkerlap-kerlip bagaikan kunang-kunang yang menemui Hamidah pada malam hari. Apalagi seperti surat-surat Areno Adamar untuk Ruth. Sungguh, aku ragu. Ragu yang teramat malu, sebenarnya.

Rabu, 04 Februari 2015

Bagaimanapun Aku Tetap Memetikmu


Kepada senar nomor satu, E, melodi tunggal.

Dengungan seperti apa yang kau bunyikan. Seperti kumbang atau tarikan pelatuk senapan? Seperti jerit tergigit lidah atau hati yang patah? Seperti gelas kaca yang jatuh dan pecah atau hentak kaki yang bercampur amarah?

Bagaimanapun, aku tetap memetikmu. 

Selasa, 03 Februari 2015

Luka


Kepada luka 
Yang bukan Ge.

Kau tahu, sepertinya kau diciptakan untukku. Kau dihadirkan oleh Tuhan untuk menemani hari-hari. Penuh air mata dan dendam. Penuh keputusasaan dan rasa ingin bunuh diri.

Tapi, apa kau juga tahu, jikalau Tuhan tidak benar-benar ingin. Buktinya kau perlahan memudar dan hilang. Kau bisa sembuh, ternyata. Dengan pagi yang membawa embun dan cahaya terang dari ufuk timur. Dengan sesederhana itu, aku bangun dari mimpi bodoh yang penuh janji-janji keparat itu. 

Senin, 02 Februari 2015

Kepada Ge (Lagi)



Kepada Ge
Yang, mungkin, sudah melupakanku.

Maaf aku mengirimimu surat lagi. Aku tidak peduli jikalau kau membaca atau tidak surat ini. sungguh tidak peduli. Aku hanya ingin menulis, dan aku tidak tahu pada siapa lagi aku menuliskan surat ini selain padamu. Andai saja kau tahu kepada siapa selainmu, beritahu aku, Ge.  

Minggu, 01 Februari 2015

Rainbow Roses



Selamat pagi, Ge.

Terlalu pagikah suratku ini? Tak apa-apa kan kalau kau membaca surat ini sebelum mandi? Atau jangan-jangan kau masih tidur pulas. Bangun.. matahari sudah bertandang dari ufuk timur, Ge.

Ge, kau tahu kan kalau aku tak bisa lepas dari social media. Twitter, facebook, instagram, path, youtube, hampir semunya aku punya. Ya, meskipun tak begitu banyak followers. Dan baru saja, tadi, aku melihat foto-foto di timeline instagram.